Monday, March 3, 2014

Pedoman Umum EYD


Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan edisi kedua berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nomor 0543a/U/1987, tanggal 9 September 1987, dicermatkan pada Rapat Kerja ke-30 Panitia Kerja Sama Kebahasaan di Tugu, tanggal 16–20 Desember 1990 dan diterima pada Sidang ke-30 Majelis Bahasa Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia di Bandar Seri Begawan, tanggal 4–6 Maret 1991.
Daftar isi:

I.


II.


III.

IV.




V.


I. Pemakaian Huruf

A. Huruf Abjad

Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas huruf yang berikut. Nama tiap huruf disertakan di sebelahnya.
Huruf
Nama
Huruf
Nama
Huruf
Nama
A a
a
J j
je
S s
es
B b
be
K k
ka
T t
te
C c
ce
L l
el
U u
u
D d
de
M m
em
V v
fe
E e
e
N n
en
W w
we
F f
ef
O o
o
X x
eks
G g
ge
P p
pe
Y y
ye
H h
ha
Q q
ki
Z z
zet
I i
i
R r
er


B. Huruf Vokal

Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf a, e, i, o, dan u.
Huruf Vokal
Contoh Pemakaian dalam Kata
Di Awal
Di Tengah
Di Akhir
a
api
padi
lusa
e*
enak
petak
sore

emas
kena
tipe
i
itu
simpan
murni
o
oleh
kota
radio
u
ulang
bumi
ibu
* Dalam pengajaran lafal kata, dapat digunakan tanda aksen jika ejaan kata menimbulkan keraguan.
Misalnya:
Anak-anak bermain di teras (téras).
Upacara itu dihadiri pejabat teras pemerintah.
Kami menonton film seri (séri).
Pertandingan itu berakhir seri.

C. Huruf Konsonan

Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.
Huruf Konsonan
Contoh Pemakaian dalam Kata
Di Awal
Di Tengah
Di Akhir
b
bahasa
sebut
adab
c
cakap
kaca
–
d
dua
ada
abad
f
fakir
kafir
maaf
g
guna
tiga
Balig
h
hari
saham
Tuah
j
jalan
manja
Mikraj
k
kami
paksa
Sesak

–
rakyat*
bapak*
l
lekas
alas
Kesal
m
maka
kami
Diam
n
nama
anak
Daun
p
pasang
apa
Siap
q**
Quran
Furqan
–
r
raih
bara
Putar
s
sampai
asli
Lemas
t
tali
mata
Rapat
v
varia
lava
–
w
wanita
hawa
–
x**
xenon
–
–
y
yakin
payung
–
z
zeni
lazim
Juz
* Huruf k di sini melambangkan bunyi hamzah.
** Huruf q dan x digunakan khusus untuk nama dan keperluan ilmu.
D. Huruf Diftong
Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au, dan oi.
Huruf Diftong
Contoh Pemakaian dalam Kata
Di Awal
Di Tengah
Di Akhir
ai
ain
syaitan
pandai
au
aula
saudara
harimau
oi
–
boikot
amboi

E. Gabungan Huruf Konsonan

Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan konsonan, yaitu kh, ng, ny, dan sy.
Gabungan
Huruf
Konsonan
Contoh Pemakaian dalam Kata
Di Awal
Di Tengah
Di Akhir
kh
khusus
akhir
tarikh
ng
ngilu
bangun
senang
ny
nyata
hanyut
–
sy
syarat
isyarat
arasy

F. Pemenggalan Kata

1.
Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut:

a.
Jika di tengah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan kata itu dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.

Misalnya: ma-in, sa-at, bu-ah

Huruf diftong ai, au, dan oi tidak pernah diceraikan sehingga pemenggalan kata tidak dilakukan di antara kedua huruf itu.

Misalnya:
au-la
bukan
a-u-la
sau-da-ra
bukan
sa-u-da-ra
am-boi
bukan
am-bo-i
b.
Jika di tengah kata ada huruf konsonan, termasuk gabungan huruf konsonan, di antara dua buah huruf vokal, pemenggalan dilakukan sebelum huruf konsonan.

Misalnya:
ba-pak, ba-rang, su-lit, la-wan, de-ngan, ke-nyang, mu-ta-khir
c.
Jika di tengah kata ada dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalan dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu. Gabungan huruf konsonan tidak pernah diceraikan.

Misalnya:
man-di, som-bong, swas-ta, cap-lok, Ap-ril, bang-sa, makh-luk
d.
Jika di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan atau lebih, pemenggalan dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua.

Misalnya:
in-strumen, ul-tra, in-fra, bang-krut, ben-trik, ikh-las
2.
Imbuhan akhiran dan imbuhan awalan, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk serta partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada pergantian baris.

Misalnya:
makan-an, me-rasa-kan, mem-bantu, pergi-lah

Catatan:
a.
Bentuk dasar pada kata turunan sedapat-dapatnya tidak dipenggal.
b.
Akhiran -i tidak dipenggal.
(Lihat keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 1.)
c.
Pada kata yang berimbuhan sisipan, pemenggalan kata dilakukan sebagai berikut.

Misalnya: te-lun-juk, si-nam-bung, ge-li-gi
3.
Jika suatu kata terdiri atas lebih dari satu unsur dan salah satu unsur itu dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalan kata dapat dilakukan
(1) di antara unsur-unsur itu atau
(2) pada unsur gabungan itu sesuai dengan kaidah 1a, 1b, 1c, dan 1d di atas.

Misalnya:
bio-grafi, bi-o-gra-fi
foto-grafi, fo-to-gra-fi
intro-speksi, in-tro-spek-si
kilo-gram, ki-lo-gram
kilo-meter, ki-lo-me-ter
pasca-panen, pas-ca-pa-nen

Keterangan:

Nama orang, badan hukum, dan nama diri yang lain disesuaikan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan kecuali jika ada pertimbangan khusus.

II. Pemakaian Huruf Kapital dan Huruf Miring

A. Huruf Kapital atau Huruf Besar

1.
Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.

Misalnya:
Dia mengantuk.
Apa maksudnya?
Kita harus bekerja keras.
Pekerjaan itu belum selesai.
2.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.

Misalnya:
Adik bertanya, "Kapan kita pulang?"
Bapak menasihatkan, "Berhati-hatilah, Nak!"
"Kemarin engkau terlambat," katanya.
"Besok pagi," kata Ibu, "dia akan berangkat".
3.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.

Misalnya:
Allah, Yang Mahakuasa, Yang Maha Pengasih, Alkitab, Quran, Weda, Islam, Kristen
Tuhan akan menunjukkan jalan yang benar kepada hamba-Nya.
Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.
4.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.

Misalnya:
Mahaputra Yamin
Sultan Hasanuddin
Haji Agus Salim
Imam Syafii
Nabi Ibrahim

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar, kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.

Misalnya:
Dia baru saja diangkat menjadi sultan.
Tahun ini ia pergi naik haji.
5.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.

Misalnya:
Wakil Presiden Adam Malik
Perdana Menteri Nehru
Profesor Supomo
Laksamana Muda Udara Husen Sastranegara
Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian
Gubernur Irian Jaya

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, atau nama tempat.

Misalnya:
Siapa gubernur yang baru dilantik itu?
Kemarin Brigadir Jenderal Ahmad dilantik menjadi mayor jenderal.
6.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.

Misalnya:
Amir Hamzah
Dewi Sartika
Wage Rudolf Supratman
Halim Perdanakusumah
Ampere

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama sejenis atau satuan ukuran.

Misalnya:
mesin diesel
10 volt
5 ampere
7.
Huruf kapital sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa.

Misalnya:
bangsa Indonesia
suku Sunda
bahasa Inggris

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan.

Misalnya:
mengindonesiakan kata asing
keinggris-inggrisan
8.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.

Misalnya:
bulan Agustus
hari Natal
bulan Maulid
Perang Candu
hari Galungan
tahun Hijriah
hari Jumat
tarikh Masehi
hari Lebaran
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama.

Misalnya:
Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsanya.
Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.
9.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.

Misalnya:
Asia Tenggara
Kali Brantas
Banyuwangi
Lembah Baliem
Bukit Barisan
Ngarai Sianok
Cirebon
Pegunungan Jayawijaya
Danau Toba
Selat Lombok
Daratan Tinggi Dieng
Tanjung Harapan
Gunung Semeru
Teluk Benggala
Jalan Diponegoro
Terusan Suez
Jazirah Arab


Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri.

Misalnya:
berlayar ke teluk
mandi di kali
menyeberangi selat
pergi ke arah tenggara

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang digunakan sebagai nama jenis.

Misalnya:
garam inggris
gula jawa
kacang bogor
pisang ambon
11.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti dan.

Misalnya:
Republik Indonesia
Majelis Permusyawaratan Rakyat
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak
Keputusan Presiden Republik Indonesia, Nomor 57, Tahun 1972

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi.

Misalnya:
menjadi sebuah republik
beberapa badan hukum
kerja sama antara pemerintah dan rakyat
menurut undang-undang yang berlaku
12.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.

Misalnya:
Perserikatan Bangsa-Bangsa
Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia
Rancangan Undang-Undang Kepegawaian
13.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.

Misalnya:
Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.
Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.
Ia menyelesaikan makalah "Asas-Asas Hukum Perdata".
14.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.

Misalnya:
Dr.
Doktor
M.A.
master of arts
S.H.
sarjana hukum
S.S.
sarjana sastra
Prof.
Profesor
Tn.
Tuan
Ny.
Nyonya
Sdr.
Saudara
15.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.

Misalnya:
"Kapan Bapak berangkat?" tanya Harto.
Adik bertanya, "Itu apa, Bu?"
Surat Saudara sudah saya terima.
"Silakan duduk, Dik!" kata Ucok.
Besok Paman akan datang.
Mereka pergi ke rumah Pak Camat.
Para ibu mengunjungi Ibu Hasan.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan.

Misalnya:
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.
16.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.

Misalnya:
Sudahkah Anda tahu?
Surat Anda telah kami terima.

B. Huruf Miring

1.
Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menulis nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.

Misalnya:
majalah Bahasa dan Kesusastraan
buku Negarakertagama karangan Prapanca
surat kabar Suara Karya
2.
Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.

Misalnya:
Huruf pertama kata abad ialah a.
Dia bukan menipu, tetapi ditipu.
Bab ini tidak membicarakan penulisan huruf kapital.
Buatlah kalimat dengan berlepas tangan.
3.
Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.

Misalnya:
Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.
Politik divide et impera pernah merajalela di negeri ini.
Weltanschauung antara lain diterjemahkan menjadi 'pandangan dunia'.

Tetapi:
Negara itu telah mengalami empat kudeta.
Catatan:
Dalam tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang akan dicetak miring diberi satu garis di bawahnya.

III. Penulisan Kata

A. Kata Dasar

Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Misalnya:
Ibu percaya bahwa engkau tahu.
Kantor pajak penuh sesak.
Buku itu sangat tebal.

B. Kata Turunan

1.
Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.

Misalnya:
·         bergeletar
·         dikelola
·         penetapan
·         menengok
·         mempermainkan
2.
Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.
(Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 5.)

Misalnya:
·         bertepuk tangan
·         garis bawahi
·         menganak sungai
·         sebar luaskan
3.
Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
(Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 5.)

Misalnya:
·         menggarisbawahi
·         menyebarluaskan
·         dilipatgandakan
·         penghancurleburan
4.
Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.

Misalnya:
adipati
mahasiswa
aerodinamika
mancanegara
antarkota
multilateral
anumerta
narapidana
audiogram
nonkolaborasi
awahama
Pancasila
bikarbonat
panteisme
biokimia
paripurna
caturtunggal
poligami
dasawarsa
pramuniaga
dekameter
prasangka
demoralisasi
purnawirawan
dwiwarna
reinkarnasi
ekawarna
saptakrida
ekstrakurikuler
semiprofesional
elektroteknik
subseksi
infrastruktur
swadaya
inkonvensional
telepon
introspeksi
transmigrasi
kolonialisme
tritunggal
kosponsor
ultramodern
Catatan:
(1)
Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf kapital, di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-).

Misalnya:
  • non-Indonesia
  • pan-Afrikanisme
(2)
Jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata esa dan kata yang bukan kata dasar, gabungan itu ditulis terpisah.

Misalnya:
Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.
Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.

C. Kata Ulang

Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung.
Misalnya:
anak-anak, buku-buku, kuda-kuda, mata-mata, hati-hati, undang-undang, biri-biri, kupu-kupu, kura-kura, laba-laba, sia-sia, gerak-gerik, huru-hara, lauk-pauk, mondar-mandir, ramah-tamah, sayur-mayur, centang-perenang, porak-poranda, tunggang-langgang, berjalan-jalan, dibesar-besarkan, menulis-nulis, terus-menerus, tukar-menukar, hulubalang-hulubalang, bumiputra-bumiputra

D. Gabungan Kata

1.
Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.

Misalnya:
duta besar, kambing hitam, kereta api cepat luar biasa, mata pelajaran, meja tulis, model linear, orang tua, persegi panjang, rumah sakit umum, simpang empat.
2.
Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian di antara unsur yang bersangkutan.

Misalnya:
alat pandang-dengar, anak-istri saya, buku sejarah-baru, mesin-hitung tangan, ibu-bapak kami, watt-jam, orang-tua muda
3.
Gabungan kata berikut ditulis serangkai.

Misalnya:
acapkali, adakalanya, akhirulkalam, alhamdulillah, astagfirullah, bagaimana, barangkali, bilamana, bismillah, beasiswa, belasungkawa, bumiputra, daripada, darmabakti, darmasiswa, dukacita, halalbihalal, hulubalang, kacamata, kasatmata, kepada, keratabasa, kilometer, manakala, manasuka, mangkubumi, matahari, olahraga, padahal, paramasastra, peribahasa, puspawarna, radioaktif, sastramarga, saputangan, saripati, sebagaimana, sediakala, segitiga, sekalipun, silaturahmi, sukacita, sukarela, sukaria, syahbandar, titimangsa, wasalam

E. Kata Ganti ku, kau, mu, dan nya

Kata ganti ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; ku, mu, dan nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Apa yang kumiliki boleh kauambil.
Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.

F. Kata Depan di, ke, dan dari

Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.
(Lihat juga Bab III, Pasal D, Ayat 3.)
Misalnya:
Kain itu terletak di dalam lemari.
Bermalam sajalah di sini.
Di mana Siti sekarang?
Mereka ada di rumah.
Ia ikut terjun ke tengah kancah perjuangan.
Ke mana saja ia selama ini?
Kita perlu berpikir sepuluh tahun ke depan.
Mari kita berangkat ke pasar.
Saya pergi ke sana-sini mencarinya.
Ia datang dari Surabaya kemarin.
Catatan:
Kata-kata yang dicetak miring di bawah ini ditulis serangkai.
Si Amin lebih tua daripada si Ahmad.
Kami percaya sepenuhnya kepadanya.
Kesampingkan saja persoalan yang tidak penting itu.
Ia masuk, lalu keluar lagi.
Surat perintah itu dikeluarkan di Jakarta pada tanggal 11 Maret 1966.
Bawa kemari gambar itu.
Kemarikan buku itu.
Semua orang terkemuka di desa itu hadir dalam kenduri itu.

G. Kata si dan sang

Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:
Harimau itu marah sekali kepada sang Kancil.
Surat itu dikirimkan kembali kepada si pengirim.

H. Partikel

1.
Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Misalnya:
Bacalah buku itu baik-baik.
Jakarta adalah ibu kota Republik Indonesia.
Apakah yang tersirat dalam surat itu?
Siapakah gerangan dia?
Apatah gunanya bersedih hati?
2.
Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.

Misalnya:
Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus.
Hendak pulang pun sudah tak ada kendaraan.
Jangan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku.
Jika ayah pergi, adik pun ingin pergi.

Catatan:
Kelompok yang lazim dianggap padu, misalnya adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, walaupun ditulis serangkai.
Misalnya:
Adapun sebab-sebabnya belum diketahui.
Bagaimanapun juga akan dicobanya menyelesaikan tugas itu.
Baik para mahasiswa maupun mahasiswi ikut berdemonstrasi.
Sekalipun belum memuaskan, hasil pekerjaannya dapat dijadikan pegangan.
Walaupun miskin, ia selalu gembira.
3.
Partikel per yang berarti 'mulai', 'demi', dan 'tiap' ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.

Misalnya:
Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 April.
Mereka masuk ke dalam ruangan satu per satu.
Harga kain itu Rp 2.000 per helai.

I. Singkatan dan Akronim

1.
Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.

a.
Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik.

Misalnya:


A.S. Kramawijaya

Muh. Yamin

Suman Hs.

Sukanto S.A.

M.B.A.
master of business administration
M.Sc.
master of science
S.E.
sarjana ekonomi
S.Kar.
sarjana karawitan
S.K.M.
sarjana kesehatan masyarakat
Bpk.
Bapak
Sdr.
saudara
Kol.
kolonel
b.
Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.

Misalnya:


DPR
Dewan Perwakilan Rakyat
PGRI
Persatuan Guru Republik Indonesia
GBHN
Garis-Garis Besar Haluan Negara
SMTP
Sekolah Menengah Tingkat Pertama
PT
Perseroan Terbatas
KTP
Kartu Tanda Penduduk
c.
Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.

Misalnya:


dll.
dan lain-lain
dsb.
dan sebagainya
dst.
dan seterusnya
hlm.
halaman
sda.
sama dengan atas
Yth. (Sdr. Moh. Hasan)
Yang terhormat (Sdr. Moh. Hasan)


Tetapi:

a.n.
atas nama
d.a.
dengan alamat
u.b.
untuk beliau
u.p.
untuk perhatian
s.d.
sampai dengan
d.
Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.

Misalnya:


Cu
kuprum
TNT
trinitrotoluen
cm
sentimeter
kVA
kilovolt-ampere
l
Liter
kg
kilogram
Rp (5.000,00)
(lima ribu) rupiah
2.
Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.

a.
Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.

Misalnya:


ABRI
Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
LAN
Lembaga Administrasi Negara
PASI
Persatuan Atletik Seluruh Indonesia
IKIP
Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan
SIM
Surat Izin Mengemudi
b.
Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.

Misalnya:


Akabri
Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
Bappenas
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
Iwapi
Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia
Kowani
Kongres Wanita Indonesia
Sespa
Sekolah Staf Pimpinan Administrasi
c.
Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil

Misalnya:


pemilu
pemilihan umum
radar
radio detecting and ranging
rapim
rapat pimpinan
rudal
peluru kendali
tilang
bukti pelanggaran
Catatan:
Jika dianggap perlu membentuk akronim, hendaknya diperhatikan syarat-syarat berikut:
1.       Jumlah suku kata akronim jangan melebihi jumlah suku kata yang lazin pada kata Indonesia
2.       Akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.

J. Angka dan Lambang Bilangan


1.
Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.

Angka Arab
 :
0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
Angka Romawi
 :
I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M (1.000)
Pemakaiannya diatur lebih lanjut dalam pasal-pasal yang berikut ini.
2.
Angka digunakan untuk menyatakan:
(i) ukuran panjang, berat, luas, dan isi (ii) satuan waktu (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas

Misalnya:
0,5 sentimeter
5 kilogram
4 meter persegi
10 liter
1 jam 20 menit
pukul 15.00
tahun 1928
17 Agustus 1945
Rp5.000,00
US$3.50*
$5.10*
¥100
2.000 rupiah
50 dolar Amerika
10 paun Inggris
100 yen
10 persen
27 orang
* tanda titik di sini merupakan tanda desimal.
3.
Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat.

Misalnya:
·         Jalan Tanah Abang I No. 15
·         Hotel Indonesia, Kamar 169
4.
Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.

Misalnya:
·         Bab X, Pasal 5, halaman 252
·         Surah Yasin: 9
5.
Penulisan lambang bilangan yang dengan huruf dilakukan sebagai berikut:

a.
Bilangan utuh

Misalnya:
dua belas
dua puluh dua
dua ratus dua puluh dua

12
22
222
b.
Bilangan pecahan

Misalnya:
setengah
tiga perempat
seperenam belas
tiga dua pertiga
seperseratus
satu persen
satu dua persepuluh
1/2
3/4
1/16
3 2/3
1/100
1%
1,2
6.
Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara yang berikut.

Misalnya:
  • Paku Buwono X
  • pada awal abad XX
  • dalam kehidupan pada abad ke-20 ini
  • lihat Bab II, Pasal 5
  • dalam bab ke-2 buku itu
  • di daerah tingkat II itu
  • di tingkat kedua gedung itu
  • di tingkat ke-2 itu
  • kantornya di tingkat II itu
7.
Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran -an mengikuti

Misalnya:
tahun '50-an
uang 5000-an
lima uang 1000-an
(tahun lima puluhan)
(uang lima ribuan)
(lima uang seribuan)
8.
Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, sperti dalam perincian dan pemaparan.

Misalnya:
Amir menonton drama itu sampai tiga kali.
Ayah memesan tiga ratus ekor ayam.
Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orang memberikan suara blangko.
Kendaraan yang ditempah untuk pengangkutan umum terdiri atas 50 bus, 100 helicak, 100 bemo.
9.
Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.

Misalnya:
Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu.
Pak Darmo mengundang 250 orang tamu.

Bukan:
15 orang tewas dalam kecelakaan itu.
Dua ratus lima puluh orang tamu diundang Pak Darmo.
10.
Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca.

Misalnya:
Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta rupiah.
Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 120 juta orang.
11.
Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali di dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.

Misalnya:
Kantor kami mempunya dua puluh orang pegawai.
DI lemari itu tersimpan 805 buku dan majalah.

Bukan:
Kantor kamu mempunyai 20 (dua puluh) orang pegawai.
Di lemari itu tersimpan 805 (delapan ratus lima) buku dan majalah.
12.
Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.

Misalnya:
Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp999,75 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus rupiah).
Saya lampirkan tanda terima uang sebesar 999,75 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus) rupiah.

IV. Penulisan Huruf Serapan

Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari pelbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing seperti Sanskerta, Arab, Portugis, Belanda, atau Inggris.
Berdasarkan taraf integrasinya, unsur pinjaman dalam bahasa Indonesia dapat dibagi atas dua golongan besar.
  1. Pertama, unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti: reshuffle, shuttle cock, I'exploitation de l'homme par I'homme. Unsur-unsur ini dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing.
  2. Kedua, unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar ejaannya hanya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.

Kaidah ejaan

Kaidah ejaan yang berlaku bagi unsur serapan itu sebagai berikut.



aa (Belanda) menjadi a

paal
baal
octaaf
pal
bal
oktaf
ae tetap ae jika tidak bervariasi dengan e

aerobe
aerodinamics
aerob
aerodinamika
ae, jika bervariasi dengan e, menjadi e

haemoglobin
haematite
hemoglobin
hematit
ai tetap ai

trailer
caisson
trailer
kaison
au tetap au

audiogram
autotroph
tautomer
hydraulic
caustic
audiogram
autotrof
tautomer
hidraulik
kaustik
c di muka a, u, o, dan konsonan menjadi k

calomel
construction
cubic
coup
classification
crystal
kalomel
konstruksi
kubik
kup
klasifikasi
kristal
c di muka e, i, oe, dan y menjadi s

central
cent
cybernetics
circulation
cylinder
coelom
sentral
sen
sibernetika
sirkulasi
silinder
selom
cc di muka o, u, dan konsonan menjadi k

accomodation
acculturation
acclimatization
accumulation
acclamation
akomodasi
akulturasi
aklimatisasi
akumulasi
aklamasi
cc di muka e dan i menjadi ks

accent
accessoryv vaccine
aksen
aksesori
vaksin
cch dan ch di muka a, o, dan konsonan menjadi k

saccharin
charisma
cholera
chromosome
technique
sakarin
karisma
kolera
kromosom
teknik
ch yang lafalnya s atau sy menjadi s

echelon
machine
eselon
mesin
ch yang lafalnya c menjadi c

check
China
cek
Cina
ç (Sanskerta) menjadi s

çabda
çastra
sabda
sastra
e tetap e

effect
description
synthesis
efek
deskripsi
sintesis
ea tetap ea

idealist
habeas
idealis
habeas
ee (Belanda) menjadi e

stratosfeer
systeem
stratosfer
sistem
ei tetap ei

eicosane
eidetic
einsteinium
eikosan
eidetik
einsteinium
eo tetap eo

stereo
geometry
zeolite
stereo
geometri
zeolit
eu tetap eu

neutron
eugenol
europium
neutron
eugenol
europium
f tetap f

fanatic
factor
fossil
fanatik
faktor
fosil
gh menjadi g

sorghum
sorgum
gue menjadi ge

igue
gigue
ige
gige
i pada awal suku kata di muka vokal tetap i

iambus
ion
iota
iambus
ion
iota
ie (Belanda) menjadi i jika lafalnya i

politiek
riem
politik
rim
ie tetap ie jika lafalnya bukan i

variety
patient
efficient
varietas
pasien
efisien
kh (Arab) tetap kh

khusus
akhir
khusus
akhir
ng tetap ng

contingent
congress
linguistics
kontingen
kongres
linguistik
oe (oi Yunani) menjadi e

oestrogen
oenology
foetus
estrogen
enologi
fetus
oo (Belanda) menjadi o

cartoon
proof
pool
kartun
pruf
pul
oo (vokal ganda) tetap oo

zoology
coordination
zoologi
koordinasi
ou menjadi u jika lafalnya u

gouverneur
coupon
contour
gubernur
kupon
kontur
ph menjadi f

phase
physiology
spectograph
fase
fisiologi
spektograf
ps tetap ps

pseudo
psychiatry
psychosomatic
pseudo
psikiatri
psikosomatik
pt tetap pt

pterosaur
pteridology
ptyalin
pterosaur
pteridologi
ptialin
q menjadi k

aquarium
frequency
equator
akuarium
frekuensi
ekuator
rh menjadi r

rhapsody
rhombus
rhythm
rhetoric
rapsodi
rombus
ritme
retorika
sc di muka a, o, u, dan konsonan menjadi sk

scandium
scotapia
scutella
sclerosis
scriptie
skandium
skotapia
skutela
sklerosis
skripsi
sc di muka e, i, dan y menjadi s

scenography
scintillation
scyphistoma
senografi
sintilasi
sifistoma
sch di muka vokal menjadi sk

schema
schizophrenia
scholasticism
skema
skizofrenia
skolastisisme
t di muka i menjadi s jika lafalnya s

ratio
action
patient
rasio
aksi
pasien
th menjadi t

theocracy
orthography
thiopental
thrombosis
methode
teokrasi
ortografi
tiopental
trombosis
metode
u tetap u

unit
nucleolus
structure
institute
unit
nukleolus
struktur
institut
ua tetap ua

dualisme
aquarium
dualisme
akuarium
ue tetap ue

suede
duet
sued
duet
ui tetap ui

equinox
conduite
ekuinoks
konduite
uo tetap uo

fluorescein
quorum
quota
fluoresein
kuorum
kuota
uu menjadi u

prematuur
vacuum
prematur
vakum
v tetap v

vitamin
television
cavalry
vitamin
televisi
kavaleri
x pada awal kata tetap x

xanthate
xenon
xylophone
xantat
xenon
xilofon
x pada posisi lain menjadi ks

executive
taxi
exudation
latex
eksekutif
taksi
eksudasi
lateks
xc di muka e dan i menjadi ks

exception
excess
excision
excitation
eksepsi
ekses
eksisi
eksitasi
xc di muka a, o, u, dan konsonan menjadi ksk

excavation
excommunication
excursive
exclusive
ekskavasi
ekskomunikasi
ekskursif
eksklusif
y tetap y jika lafalnya y

yakitori
yangonin
yen
yuan
yakitori
yangonin
yen
yuan
y menjadi i jika lafalnya i

yttrium
dynamo
propyl
psychology
itrium
dinamo
propil
psikologi
z tetap z

zenith
zirconium
zodiac
zygote
zenith
zirkonium
zodiak
zigot

Konsonan ganda

Konsonan ganda menjadi konsonan tunggal kecuali kalau dapat membingungkan.
Misalnya:
gabbro
accu
effect
commision
ferrum
solfeggio
gabro
aki
efek
komisi
ferum
solfegio
tetapi:
mass
massa

Catatan

  1. Unsur pungutan yang sudah lazim dieja secara Indonesia tidak perlu lagi diubah
Misalnya: kabar, sirsak, iklan, perlu, bengkel, hadir.
  1. Sekalipun dalam ejaan yang disempurnakan huruf q dan x diterima sebagai bagian abjad bahasa Indonesia, kedua huruf itu diindonesiakan menurut kaidah yang terurai di atas. Kedua huruf itu digunakan dalam penggunaan tertentu saja seperti dalam pembedaan nama dan istilah khusus.

Akhiran asing

Di samping pegangan untuk penulisan unsur serapan tersebut di atas, berikut ini didaftarkan juga akhiran-akhiran asing serta penyesuaiannya dalam bahasa Indonesia. Akhiran itu diserap sebagai bagian kata yang utuh.

Kata seperti standardisasi, efektif, dan implementasi diserap secara utuh di samping kata standar, efek, dan implemen.



-aat (Belanda) menjadi -at

advokaat
advokat
-age menjadi -ase

percentage
etalage
persentase
etalase
-al, -eel (Belanda) menjadi -al

structural, structureel
formal, formeel
normal, normaal
struktural
formal
normal
-ant menjadi -an

accountant
informant
akuntan
informan
-ary, -air (Belanda) menjadi -er

complementary, complementair
primary, primair
secondary, secundair
komplementer
primer
sekunder
-(a)tion, -(a)tie (Belanda) menjadi -asi, -si

action, actie
publication, publicatie
aksi
publikasi
-eel (Belanda) menjadi -el

ideëel
materieel
moreel
ideel
materiel
morel
-ein tetap -ein

casein
protein
kasein
protein
-ic, -ics, -ique, -iek, -ica (Belanda) menjadi -ik, -ika

logic, logica
phonetics, phonetiek
physics, physica
dialectics, dialektica
technique, techniek
logika
fonetik
fisika
dialektika
teknik
-ic, -isch (adjektiva Belanda) menjadi -ik

electronic, electronisch
mechanic, mechanisch
ballistic, ballistisch
elektronik
mekanik
balistik
-ical, -isch (Belanda) menjadi -is

economical, economisch
practical, practisch
logical, logisch
ekonomis
praktis
logis
-ile, iel menjadi -il

percentile, percentiel
mobile, mobiel

-ism, -isme (Belanda) menjadi -isme

modernism, modernisme
communism, communisme
modernisme
komunisme
-ist menjadi -is

publicist
egoist
publisis
egois
-ive, -ief (Belanda) menjadi -if

descriptive, descriptief
demonstrative, demonstratief
deskriptif
demonstratif
-logue menjadi -log

catalogue
dialogue
katalog
dialog
-logy, -logie (Belanda) menjadi -logi

technology, technologie
physiology, physiologie
analogy, analogie
teknologi
fisiologi
analogi
-loog (Belanda) menjadi -log

analoog
epiloog
analog
epilog
-oid, -oide (Belanda) menjadi -oid

hominoid, hominoide
anthropoid, anthropoide
hominoid
anthropoid
-oir(e) menjadi -oar

trottoir
repertoire
trotoar
repertoar
-or, -eur (Belanda) menjadi -ur, -ir

director, directeur
inspector, inspecteur
amateur
formateur
direktur
inspektur
amatir
formatur
-or tetap -or

dictator
corrector
diktator
korektor
-ty, -teit (Belanda) menjadi -tas

university, universiteit
quality, qualiteit
universitas
kualitas
-ure, -uur (Belanda) menjadi -ur

structure, struktuur
premature, prematuur
struktur
prematur

V. Pemakaian Tanda Baca

A. Tanda Titik (.)

1.
Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.

Misalnya:
·         Ayahku tinggal di Solo.
·         Biarlah mereka duduk di sana.
·         Dia menanyakan siapa yang akan datang.
·         Hari ini tanggal 6 April 1973.
·         Marilah kita mengheningkan cipta.
·         Sudilah kiranya Saudara mengabulkan permohonan ini.
2.
Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.

Misalnya:
a.
III.
Departemen Dalam Negri
A.
Direktorat Jendral Pembangunan Masyarakat Desa
B.
Direktorat Jendral Agraria
1.

b.
1.
Patokan Umum

1.1
Isi Karangan

1.2
Ilustrasi


1.2.1
Gambar Tangan


1.2.2
Tabel


1.2.3
Grafik

Catatan:
Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan atau ikhtisar jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka atau huruf.
3.
Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.

Misalnya:
pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)
4.
Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu.

Misalnya:
1.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)
0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)
0.0.30 jam (30 detik)
5.
Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka.

Misalnya:
Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltevreden: Balai Poestaka.
6a.
Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.

Misalnya:
Desa itu berpenduduk 24.200 orang.
Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.231 jiwa.
6b.
Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.

Misalnya:
Ia lahir pada tahun 1956 di Bandung.
Lihat halaman 2345 dan seterusnya.
Nomor gironya 5645678.
7.
Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.

Misalnya:
Acara Kunjungan Adam Malik
Bentuk dan Kedaulatan (Bab I UUD'45)
Salah Asuhan
8.
Tanda titik tidak dipakai di belakang
(1) alamat pengirim dan tanggal surat atau
(2) nama dan alamat penerima surat.

Misalnya:
Jalan Diponegoro 82
Jakarta (tanpa titik)
1 April 1985 (tanpa titik)
Yth. Sdr. Moh. Hasan (tanpa titik)
Jalan Arif 43 (tanpa titik)
Palembang (tanpa titik)
Atau:
Kantor Penempatan Tenaga (tanpa titik)
Jalan Cikini 71 (tanpa titik)
Jakarta (tanpa titik)

B. Tanda Koma (,)

1.
Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.

Misalnya:
·         Saya membeli kertas, pena, dan tinta.
·         Surat biasa, surat kilat, ataupun surat khusus memerlukan perangko.
·         Satu, dua, ... tiga!
2.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan.

Misalnya:
·         Saya ingin datang, tetapi hari hujan.
·         Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim.
3a.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.

Misalnya:
·         Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.
·         Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.
3b.
Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.

Misalnya:
·         Saya tidak akan datang kalau hari hujan.
·         Dia lupa akan janjinya karena sibuk.
·         Dia tahu bahwa soal itu penting.
4.
Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.

Misalnya:
·         ... Oleh karena itu, kita harus berhati-hati.
·         ... Jadi, soalnya tidak semudah itu.
5.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat.

Misalnya:
·         O, begitu?
·         Wah, bukan main!
·         Hati-hati, ya, nanti jatuh.
6.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
(Lihat juga pemakaian tanda petik, Bab V, Pasal L dan M.)

Misalnya:
·         Kata Ibu, "Saya gembira sekali."
·         "Saya gembira sekali," kata Ibu, "karena kamu lulus."
7.
Tanda koma dipakai di antara
(i) nama dan alamat,
(ii) bagian-bagian alamat,
(iii) tempat dan tanggal, dan
(iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.

Misalnya:
·         Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Raya Salemba 6, Jakarta.
·         Sdr. Abdullah, Jalan Pisang Batu 1, Bogor
·         Surabaya, 10 mei 1960
·         Kuala Lumpur, Malaysia
8.
Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.

Misalnya:
Alisjahbana, Sutan Takdir. 1949 Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 1 dan 2. Djakarta: PT Pustaka Rakjat.
9.
Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.

Misalnya:
W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Yogyakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4.
10.
Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.

Misalnya:
B. Ratulangi, S.E.
Ny. Khadijah, M.A.
11.
Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.

Misalnya:
12,5 m
Rp12,50
12.
Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.
(Lihat juga pemakaian tanda pisah, Bab V, Pasal F.)

Misalnya
·         Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali.
·         Di daerah kami, misalnya, masih banyak orang laki-laki yang makan sirih.
·         Semua siswa, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, mengikuti latihan paduan suara.

Bandingkan dengan keterangan pembatas yang pemakaiannya tidak diapit tanda koma:
Semua siswa yang lulus ujian mendaftarkan namanya pada panitia.
13.
Tanda koma dapat dipakai—untuk menghindari salah baca—di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.

Misalnya:
Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh.
Atas bantuan Agus, Karyadi mengucapkan terima kasih.

Bandingkan dengan:
Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam pembinaan dan pengembangan bahasa.
Karyadi mengucapkan terima kasih atas bantuan Agus.
14.
Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.

Misalnya:
"Di mana Saudara tinggal?" tanya Karim.
"Berdiri lurus-lurus!" perintahnya.

C. Tanda Titik Koma (;)

1.
Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.

Misalnya:
Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga.
2.
Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.

Misalnya:
Ayah mengurus tanamannya di kebun itu; Ibu sibuk bekerja di dapur; Adik menghapal nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran "Pilihan Pendengar".

D. Tanda Titik Dua (:)

1a.
Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian.

Misalnya:
·         Kita sekarang memerlukan perabotan rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
·         Hanya ada dua pilihan bagi pejuang kemerdekaan itu: hidup atau mati.
1b.
Tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau perian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan

Misalnya:
·         Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.
·         Fakultas itu mempunyai Jurusan Ekonomi Umum dan Jurusan Ekonomi Perusahaan.
2.
Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.

Misalnya:
a.
Ketua
Sekretaris
Bendahara
 :
 :
 :
Ahmad Wijaya
S. Handayani
B. Hartawan

b.
Tempat Sidang
Pengantar Acara
Hari
Waktu
 :
 :
 :
 :
Ruang 104
Bambang S.
Senin
09.30
3.
Tanda titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.

Misalnya:

Ibu
 :
(meletakkan beberapa kopor) "Bawa kopor ini, Mir!"
Amir
 :
"Baik, Bu." (mengangkat kopor dan masuk)
Ibu
 :
"Jangan lupa. Letakkan baik-baik!" (duduk di kursi besar)
4.
Tanda titik dua dipakai:
(i) di antara jilid atau nomor dan halaman,
(ii) di antara bab dan ayat dalam kitab suci,
(iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan, serta
(iv) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.

Misalnya:
Tempo, I (1971), 34:7
Surah Yasin:9
Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah terbit.
Tjokronegoro, Sutomo, Tjukupkah Saudara membina Bahasa Persatuan Kita?, Djakarta: Eresco, 1968.

E. Tanda Hubung (–)

1.
Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh penggantian baris.

Misalnya:
Di samping cara-cara lama itu ada ju-
ga cara yang baru.

Suku kata yang berupa satu vokal tidak ditempatkan pada ujung baris atau pangkal baris.

Misalnya:
Beberapa pendapat mengenai masalah itu
telah disampaikan ....
Walaupun sakit, mereka tetap tidak mau
beranjak ....
atau
Beberapa pendapat mengenai masalah
itu telah disampaikan ....
Walaupun sakit, mereka tetap tidak
mau beranjak ....
bukan
Beberapa pendapat mengenai masalah i-
tu telah disampaikan ....
Walaupun sakit, mereka tetap tidak ma-
u beranjak ....
2.
Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata dibelakangnya atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris.

Misalnya:
Kini ada cara yang baru untuk meng-
ukur panas.
Kukuran baru ini memudahkan kita me-
ngukur kelapa.
Senjata ini merupakan alat pertahan-
an yang canggih.

Akhiran -i tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada pangkal baris.
3.
Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.

Misalnya:
anak-anak, berulang-ulang, kemerah-merahan.

Angka 2 sebagai tanda ulang hanya digunakan pada tulisan cepat dan notula, dan tidak dipakai pada teks karangan.
4.
Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.

Misalnya:
p-a-n-i-t-i-a
8-4-1973
5.
Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas
(i) hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan, dan (ii) penghilangan bagian kelompok kata.

Misalnya:
·         ber-evolusi
·         dua puluh lima-ribuan (20 x 5000)
·         tanggung jawab-dan kesetiakawanan-sosial

Bandingkan dengan:
·         be-revolusi
·         dua-puluh-lima-ribuan (1 x 25000)
·         tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial
6.
Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan
(i) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital,
(ii) ke- dengan angka,
(iii) angka dengan -an,
(iv) singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan
(v) nama jabatan rangkap

Misalnya
se-Indonesia, se-Jawa Barat, hadiah ke-2, tahun 50-an, mem-PHK-kan, hari-H, sinar-X, Menteri-Sekretaris Negara
7.
Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.

Misalnya:
di-smash, pen-tackle-an

F. Tanda Pisah (—)

1.
Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat.

Misalnya:
Kemerdekaan bangsa itu—saya yakin akan tercapai—diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
2.
Tanda pisah menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.

Misalnya:
Rangkaian temuan ini—evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom—telah mengubah persepsi kita tentang alam semesta.
3.
Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau tanggal dengan arti 'sampai ke' atau 'sampai dengan'.

Misalnya:
1910—1945
tanggal 5—10 April 1970
Jakarta—Bandung

Catatan:
Dalam pengetikan, tanda pisah dinyatakan dengan dua buah tanda hubung tanpa spasi sebelum dan sesudahnya.

G. Tanda Elipsis (...)

1.
Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus.

Misalnya:
·         Kalau begitu ... ya, marilah kita bergerak.
2.
Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan.

Misalnya:
·         Sebab-sebab kemerosotan ... akan diteliti lebih lanjut.

Catatan:
Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empat buah titik; tiga buah untuk menandai penghilangan teks dan satu untuk menandai akhir kalimat.
Misalnya:
Dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan hati-hati ....

 H. Tanda Tanya (?)

1.
Tanda tanya dipakai pada akhir tanya.

Misalnya:
·         Kapan ia berangkat?
·         Saudara tahu, bukan?
2.
Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.

Misalnya:
·         Ia dilahirkan pada tahun 1683 (?).
·         Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.

I. Tanda Seru (!)

Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat.
Misalnya:
·         Alangkah seramnya peristiwa itu!
·         Bersihkan kamar itu sekarang juga!
·         Masakan! Sampai hati juga ia meninggalkan anak-istrinya!
·         Merdeka!

J. Tanda Kurung ((...))

1.
Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan.

Misalnya:
·         Bagian Perencanaan sudah selesai menyusun DIK (Daftar Isian Kegiatan) kantor itu.
2.
Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan.

Misalnya:
·         Sajak Tranggono yang berjudul "Ubud" (nama tempat yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962.
·         Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan arus perkembangan baru dalam pasaran dalam negeri.
3.
Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.

Misalnya:
·         Kata cocaine diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kokain(a).
·         Pejalan kaki itu berasal dari (kota) Surabaya.
4.
Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.

Misalnya:
·         Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan (c) modal.

K. Tanda Kurung Siku ([...])

1.
Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli.

Misalnya:
·         Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.
2.
Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.

Misalnya:
·         Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman 35-38]) perlu dibentangkan di sini.

L. Tanda Petik ("...")

1.
Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.

Misalnya:
·         "Saya belum siap," kata Mira, "tunggu sebentar!"
·         Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, "Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia."
2.
Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.

Misalnya:
·         Bacalah "Bola Lampu" dalam buku Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat.
·         Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul "Rapor dan Nilai Prestasi di SMA" diterbitkan dalam Tempo.
·         Sajak "Berdiri Aku" terdapat pada halaman 5 buku itu.
3.
Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.

Misalnya:
·         Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara "coba dan ralat" saja.
·         Ia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama "cutbrai".
4.
Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.

Misalnya:
·         Kata Tono, "Saya juga minta satu."
5.
Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.

Misalnya:
·         Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan "Si Hitam".
·         Bang Komar sering disebut "pahlawan"; ia sendiri tidak tahu sebabnya.

Catatan:
Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.

M. Tanda Petik Tunggal ('...')

1.
Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.

Misalnya:
·         Tanya Basri, "Kau dengar bunyi 'kring-kring' tadi?"
·         "Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriak anakku, 'Ibu, Bapak pulang', dan rasa letihku lenyap seketika," ujar Pak Hamdan.
2.
Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing. (Lihat pemakaian tanda kurung, Bab V, Pasal J.)

Misalnya:
·         feed-back 'balikan'

N. Tanda Garis Miring (/)

1.
Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.

Misalnya:
No. 7/PK/1973
Jalan Kramat III/10
tahun anggaran 1985/1986
2.
Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap.

Misalnya:
dikirimkan lewat darat/laut
(dikirimkan lewat darat atau laut)
harganya Rp25,00/lembar
(harganya Rp25,00 tiap lembar)

 

O. Tanda Penyingkat (Apostrof) (')

Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.
Misalnya:
Ali 'kan kusurati.
('kan = akan)
Malam 'lah tiba.
('lah = telah)
1 Januari '88
('88 = 1988)
Read More ;)

Anekdot!

MEMET DAN CLEMUT

Suatu hari di tepian Sungai Airwung, Memet dan Clemut sedang memancing ikan menggunakan alat pancing yang baru mereka beli. Baru saja beli? Iya, karena mereka biasanya menceburkan diri ke sungai untuk menangkap ikan. Mereka tak tau mengapa, air sungai itu sekarang menjadi kotor karena sampah. Padahal, dulu sungai itu airnya sangat jernih dan ikan-ikan berenang dengan riangnya.
Setelah beberapa menit menunggu, pancingan milik Clemut bergerak, setelah Clemut tarik ternyata itu adalah ikan. “Alhamdulillah! Akhirnya aku mendapat ikan!”, kata Clemut kegirangan. Memet melihat Clemut dengan sirik, Memet bersikeras untuk memancing ikan. Akhirnya, ia merasa kalau kailnya terkait sesuatu. Memet menarik dengan sangaaat kuat, tapi ternyata yang Memet tarik adalah ban bekas. Clemut menertawakan Memet, pipi Memet memerah. Namun akhirnya mereka berdua tertawa kegirangan.
Setelah puas memancing ikan dan juga ban bekas, mereka pulang menuju rumah. Di jalan menuju ke rumah, mereka bertemu dengan seseorang yang membuang sampah ke sungai. “Uh tau nggak sih dia, masak buang sampah di sungai sih. Kayak gak ada tempat sampah aja!”, gumam Clemut. Mereka pun mendekati si pembuang sampah tersebut. “Permisi pak! Kalau mau membuang sampah di tempat sampah dong! Jangan di sungai, nanti bisa banjir pak! Ikannya juga kasihan, tidak bisa hidup dengan tenang.”, kata Memet. “Halah, kamu itu tidak usah menceramahi orang tua! Cepat pulang sana!”, kata bapak pembuang sampah. Akhirnya Clemut dan Memet pergi meninggalkannya.
Di perjalanan, Memet bercerita bahwa ia baru saja mendapatkan pelajaran tentang teks anekdot di sekolahnya. Clemut pun mendengarkan dengan saksama.
“Jadi gini Mut, di buku pelajaran aku itu ada teks anekdot tentang sampah gitu. Mau aku ceritain nggak?”
“Wah boleh! Aku juga lagi ada tugas membuat teks anekdot nih!”
“Jadi pada suatu hari, ada seorang pengembara dari Eropa yang bernama Tom. Ia sangat ingin mengikuti jejak idolanya, yaitu Plato sang penjelajah.”
“Ah nama tokohnya kurang keren, nama tokohnya itu Gru aja.”
“Oke, jadi Gru melakukan perjalanan dari Eropa ke arah timur menaiki kapal. Menurut Plato, daerah bagian timur sangat indah pemandangannya.”
“Iya, terus? Langsung aja ke intinya!”, Clemut sudah tidak sabar.
“Ya baiklah. Singkat cerita, Gru mulai melakukan perjalanannya dan semakin mendekati gugusan pulau-pulai di daerah belahan timur dunia ini. Namun, tiba-tiba ada badai menerjang. Kapal Gru terombang-ambing ombak, ia memutuskan untuk menggunakan perahu saja. Tapi setelah sampai di pulau tersebut, terjadi sesuatu...”
“Ha? Terjadi apa? Gru kenapa?”
“Gru tertimpa buah kelapa yang jatuh dari pohonnya, ia pun pingsan.”
“Yah udah sampai malah pingsan”
“Tenang saja. Beberapa saat kemudian, Gru terbangun karena mencium bau yang busuk, sangat busuk. Ia melihat ke sekelilingnya, ternyata banyak sampah, mulai dari limbah plastik, ban bekas, botol bekas, bahkan masih ada sampah jenis lainnya!”
“Ih jorok, itu sebenarnya Gru datang ke negara apa?”
“Sebentar, ceritanya belum selesai. Gru teringat pesan Plato kepadanya bahwa jika engkau menemui tumpukan sampah yang banyak, baik organik maupun anorganik di tempat-tempat umum atau di rumah warga, berarti kamu sedang berada di....”
“.......”
“Coba tebak Clemut!”
“......”
“INDONESIA!”, Memet menjawab dengan sangat bersemangat.
“Oh Indonesia? Nggak heran sih. Kenyataannya aja tadi ada orang buang sampah ke sungai. Kita sekarang kalau menangkap ikan pakai alat pancing, udah gitu kamu tadi malah mendapat ban bekas!”
“Haha iya! Benar juga!”
“Selain itu, mereka padahal udah tau kalau buang sampah di sungai bikin banjir. Apalagi sekarang di musim hujan. Ih geli aku. Mereka disuruh membuang sampah di tempat sampah aja nggak mau, kalau kena banjir aja protes nyalahin pemerintah!”
“Huh iya, aku juga sebel!”
“Eh ngomong-ngomong, teks anekdotnya nggak ada yang lucu tuh. Berarti teks anekdot nggak harus lucu ya?”
“Enggak harus lucu, yang penting itu kan teks anekdot ada sindirannya, sama ada partisipannya dong! Hahaha”
“Hahaha iyaa! Semoga aja partisipannya peka!”


Kadek Alitya Ambarwati

X PMIIA 6/15
Read More ;)

Saturday, January 25, 2014

Hari Ini GEMPA (Hari Ini Part 2)

Tau gak? Hari ini ada gempa loh, sekitar jam 12.30 WIB (versi gue). Denger-denger sih gempanya dari Kebumen, gue sih cuek. Huh gempanya pas gue lagi mood makan tuh, padahal paginya gue gak mood makan. Pertama sih, enak-enak ya lagi makan. Tiba-tiba, kerasa mak jeglek gitu. Gue langsung nengok ke Puteri (nama asli) "Put kowe kroso mak jegleg ra?" "Eh iyo" Ternyata abis itu kerasa horok-horok lagi, kakel pada turun dari lantai atas. Akhrinya gue baru nyadar ada gempa beneran -_-
Gue galoooo, ada mas bobo dkk cuy -_-
Udah pas gue balik ke kelas, ada feeling buruk gitu. Sori banyak yang diskip lagi pms -_-

Istirahat pertama ya, flashback dikit ;) Gue ke kantin sama Ayas, Ghina, Puteri. Eh ketemu mantan bias (re: yeti gede, kumis), ternyattooo waktu gue berdiri di belakangnya, tiba-tiba dia mundur-mundur gitu. Eh ternyata ada Mas Bobo, OMG! HE IS EVERYWHERE, AND I HATE IT! -_- Gue nggeret Puteri buat jajan, eh mantan bias tumpuk undung bertiga kek ngrasani gitu, feeling gue udah negatif. Oke it's over :)
Read More ;)

Friday, January 24, 2014

HARI INI HARI KAMIS

H
ari ini hari Kamis, hari di mana gue harus ngerjain tugas PKn dari Pak Riyanto. Asal lu tau, tugasnya disuruh wawancara tentang pelaksanaan hukum di Indonesia. You know? Gue sama partner gue, temen sebelah gue, temen dua meja gue, iya dua meja, karena mejanya kecil terus disatuin namanya Kirana (nama disamarkan) rencana mau wawancara kakak kelas di perpustakaan sekolah gue. Perpustakaan sekolah gue adem ayem nyaman asoy silir dan cihuy loh.
Yeah time is comiiiing! Pulang sekolah, gue udah dag dig dug gitu. Maklum lah, gue belum pernah wawancara, gue bukan anak jurnal, gak kayak partner gue. Uh ternyata pulang sekolah ada pengumuman buat suporteran gajelas gitu, akhirnya gue sama Kirana keluar kelas. Otw ke kamar mandi, gue liat calon narasumber gue keluar dari perpustakaan. Yaampun, gue merasa berdosa banget, gue pun akhirnya tetep buang air kecil. After that, gue ke perpus deh.
Eh wait, ada yang mau diceritain gak gimana gue janjian wawancara sama dia? Ada ya! Wah asiik, dengerin yaa...
Suatu hari, tepatnya Rabu, gue follow kakel gue itu, terus minta follback, dan udah difollback. Akhirnya, to the point deh gue mau wawancara dia. Eh tiba-tiba dia langsung ngereply mention gue gini, “Mau aja, kapan? Tentang apa? “ Gue shock cuy, SHOCK! *zoom in, zoom out* Lanjut di dm deh, ternyata dia rada cuek juga, kagak pernah pake emoticon.
Oke cus balik lagi, gue lagi di perpus nih sama Kirana, di perpus ada Mas Z, dan temen-temenya, ada 2 mbak-mbak juga. Gue sama Kirana baca novel yang kita pinjem di perpus hari sebelum-sebelumnya. Udah lama nunggu, gue mulai panik dan merasa berdosa karena tadi pulang sekolah gak langsung ke perpus. Uh langsung deh dm Mas Bobo, beberapa menit kemudian dia dateng. Ngeng oke matilah guee!!!
Oh iya, dia masuk perpus gitu kan bilang HAI PAK ke bapak perpusnya, seketika gue langsung jegleg, ancur, listrik gue abis. Kirana berdiri duluan, gue masih ngecharge diri. Mas Bobo yang mulai ngomong duluan gini,”Kalian ya yang mau wawancara?” Ini gue masih ngecharge, jadi Kirana yang njawab. Oke pindah tempat duduk. Wawancara pun dimulai. Oiya, btw gue masih ngecharge diri.
Di tengah-tengah wawancara, gue kan Cuma nyengoh gajelas gitu kan, gabisa ngomong apa-apa. Eh ada mbak-mbak bilang,”Mereka belum nyampe Bo” Idih batin gue gini,”Eh sori mbak, sini udah nyampe reaksi elektrolisis ya” Oke lanjut, gue masih dalam keadaan charging. Finally, wawancara berakhir... Legaaaa~~~
Eh ternyata setelah Kirana berdiri, Mas Bobo nanya nama *jegleg* *masih dalam keadaan charging* Gue jawab sambil nglindur gitu, dia nanya gini,”Oh iya namamu siapa?” “Kirana” “Kalo kamu?” “Kadek” “Oh iya Kadek” sambil senyum gitu. Gila lu mas, gue masih charging nih! (?)
Oke this is over, dan gue masih dalam keadaan setengah mati. Mas Bobo ngomong sama Mas Z dkk. Gue masih nenangin diri gue. Btw, pendapatnya Mas Bobo mantap cuy! Asoy!!
Yeah sebelum wawancara itu terjadi, gue emang udah sering ngomongin dia. Iyalah, Mas Bobo kan famous. You know, Mas Bobo everywhere. Dan gue gatau, hari ini gue jam kosong kimia, gue ke perpus sama Kirana, Sati, sama Dian. Sampe perpus gue sama mereka juga gajadi ngerjain kimia, malah main pottermore. Hihihihihihihihihihi....
Gue update deh di twitter, mumpung ada komputer selo laah. Update gue gini loch,”Main pottermore di perpus sama @... @... sama @...” Eh beberapa saat kemudian, anak kelas Mas Bobo berdatangan ke perpus. Eh ada mantan bias, eh ada si kumis, eh sayang dia cuek banget. Gue udah move on deh dari dia. Gue juga gatau, kenapa selera gue anak is mulu ya.
Ah gue udah ngomong “Matio Kir” ke Kirana, eh alhamdulillah ding nggak ada Mas Bobo. Tapi akhirnya yang mati lagi juga gue, you know Mas Bobo nonton video tepat di sebelah gue. Gue juga gatau, kenapa dia tiba-tiba bisa dateng ke perpus seorang diri tanpa bawa buku layaknya teman-teman sekelasnya. Mungkin liat update-an gue kali ya #episodegrdikit
Dia mampir ke tempat dimana teman dia berada, di meja sebelah kiri gue, dan beberapa ada yang di karpet. Sementara buku gue dan temen-temen gue masih tergeletak tak beraturan di meja depan teman-teman Mas Bobo. Matilah gue, dia ngliatin gue >.<
Syuut, gue pura-pura gatau, terus fokus main pottermore. Padahal hati gue rada autis gitu geraknya. Next, dia mendekat ke meja-meja komputer di mana gue berada, eh ternyata dia emang mau main komputer. Sebelum duduk, gue ngliatin dia, rada antik kalo mau nyapa gitu. Mas Bobo ngliatinnya horor sih, lagian kalo gue nyapa, ntar diliatin temen-temennya lagi. Asal lu tau, meja komputer yang kosong selain di deketku juga ada. Ternyata dia masang headset ke komputer, daaaaan nonton video. Gue masih autis main pottermore.
Yak beeel, penderitaan gue berakhir *loncat-loncat muter lapangan* Akhirnya keluar juga dari perpus. Pampampampam....
Setelah itu, gue gatau, tapi tenang aja, gue akan selalu update :p


Next day guys, terjadi peristiwa aneh lagi. Jumat, 24 Januari 2014 gue masuk seperti biasa, dan ada olahraga. Yeah, pas pelajaran ekonomi ada pengumuman kalo nanti siswa yang tidak berkepentingan diharapkan untuk segera pulang.
Jumat kan harinya mentoring nih, mbak-mbak mentoring kan pastinya gatau kalo ada pertemuan wali murid kelas XII. Gue dan temen-temen gue udah galau ada mentoring apa enggak. Eh akhirnya pulang sekolah main deh ke perpus bareng Kirana, Sati, sama Dian dan ada Amalia. Gue ke perpus masih bawa tas, sementara yang lain udah ditinggal. Dasar sregep banget gue -__-
Masuk perpus absen, pada balikin buku, gue sama Amalia Cuma ngliatin daftar orang yang ngeprint di perpus. Abis itu Amalia keluar duluan, gue dan sisanya menuju ke rak novel. Yeaaaay!! Gue nemuin Supernova Akar cuy! Kereeen kaaan :33 Gue pinjem deh itu buku. Terus main pottermoreeeee :3
Beberapa saat kemudian, Mas Bobo dateng sendirian. Batin gue adalah ngapain dia di sini pas gue di sini, sendirian pula. Suara dia kan khas banget ya, begitu masuk langsung nyapa ibu perpus, gue langsung tau deh. Gue udah firasat buruk gitu, akhirnya gue izin ke Dian buat naruh tas dulu. Begitu keluar perpus gue langsung legaaaa....
Masuk perpus lagi, eh Mas Bobo masih di situ, masih baca buku baru yang belum boleh dipinjem. Gue cus deh main pottermore. Selama gue main pottermore, Mas Bobo juga masih di situ. Azan udah berkumandang pun masih aja di situ, padahal kan dia harusnya udah di masjid buat jumatan. Yeah akhirnya setelah sepi cowok, dia keluar....
Eh Kirana dikasih tau kalo dia mentoring di MM, terus gue cek hape gue. Eh ternyata ada mentoring juga di MM, langsung lari cus ke MM deh. Oke skip mentoring ya :p
Selesai mentoring, gue sama Sati sholat ke masjid. Syuuut, selesai sholat Kirana sama Mei dateng nanyain Dian. Nah, gue sama Sati kan otomatis gatau, orang daritadi kita di masjid. Akhirnya nyari Dian deh bipbipbip
Yokz cuz ke kelas tercinta gue, ternyata wali murid udah pada dateng. Eh Dian juga gak ada. Akhirnya kita mutusin buat nyari Dian di luar. Sampai di depan X3 ada Mas Bobo dan 2 temannya, gue sih gatau mereka ngapain nongkrong di depan ruang BK. Salah satu temennya Mas Bobo tiba-tiba senyum ketawa nyengir gimana gitu ngliatin kita, terus dia narik Mas Bobo. Eh Mas Bobo ikutan senyum autis. Gue sama Puteri berasa rada gimana gitu, karena yang dikenal Mas Bobo di antara kita ya Cuma gue sama Puteri. Yasudahlah lupakan.
Sampai di depan gerbang, Dian juga gak ada. Akhirnya kita memutuskan untuk kembali lagi dan mencoba mencari Dian di perpus. Eh si Kirana udah dijemput, wah ngurang 1 deh. Masuk lagi deh ke halaman sekolah. Mas bobo dan kawannya masih di situ. Gue ngliat Dian dari kejauhan. Si Mei lari, unyu banget tau gak larinyaa :33
Ketemu Dian deh, cus mau ke perpus. Tapi gajadi karena inget Dian belum sholat zuhur karena ternyata dia mentoring di lantai atas. Sebelum itu, si Shifa ngasih tau kalau ada guru smp tadi yang lewat, wah galau gue gak ketemu Bu Ida.
Akhirnya pergi deh ke masjid. Eh si Sati pake ngingetin gue lagi kalo ada Mas Bobo, masak dia bilang gini to,”Dek, liat tuh kirimu” Gue kan langsung nengok ya, karena gainget kalo masih ada Mas Bobo. Eh diketawain lagi, pindah posisi deh gue.

Oke this is over, and thank you
Read More ;)